alexametrics

Hajj Journey-12

Haji Adalah Miniatur Kecil dari Perjalanan Hidup Manusia

loading...
Haji Adalah Miniatur Kecil dari Perjalanan Hidup Manusia
Setelah seluruh rangkaian ritual Haji Selesai dilaksanakan, jamaah dengan sendirinya resmi menjadi haji/hajjah. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pembimbing Haji Nusantara USA

Setelah seluruh rangkaian ritual Haji Selesai dilaksanakan, jamaah dengan sendirinya resmi menjadi haji/hajjah. Gelar ini menjadi populer khususnya di Indonesia.

Kita menyebutkan di sesi awal catatan ringan ini bahwa haji, selain bersifat konklusif (menyimpulkan), inklusif (merangkul), juga integratif (mengikat) semua aspek ajaran Islam. Pada haji ada aspek akidah, aspek ibadah, dan tentunya ada aspek penting dari Muamalat dan hubungan internasional manusia.



Tetapi juga tidak kalah pentingnya ibadah haji sesungguhnya adalah penggambaran dari siklus kehidupan manusia dari awal hingga akhir. Pada semua ritual ibadah itu tergambarkan semua tahapan yang berlaku dalam hidup manusia.

Dimulai dari kata haji yang identik dengan perjalanan (Journey). Sesungguhnya menggambarkan kepada kita bahwa hidup itu adalah perjalanan (a Journey). Maka tepat adanya jika haji adalah miniatur atau gambaran kecil dari perjalanan hidup manusia.

Ketika akan memulai perjalanan haji ada tiga aspek bekal (zaad) yang mutlak dipersiapkan. Persiapan materi dan fisikal. Persiapan ilmu dan pengetahuan. Dan tidak kalah pentingnya adalah persiapan spiritual kerohaniaan.

Persiapan materi dan fisikal termaknai dengan penciptaan manusia dari tanah liat. Manusia adalah juga bentuk fisikal dan secara mendasar memerlukan material dalam hidupnya. Makan, minum, tidur, kawin, olah raga, semua itu wujud dari Persiapan materi dan fisikal manusia itu.

Perjalanan ibadah haji juga mutlak dengan perbekalan "ilmu". Semua Ibadah dalam Islam itu sejatinya dilakukan dengan dasar ilmu. Beribadah bukan sekadar dengan rasa dan emosi, apalagi ikut-ikutan.

Haji secara khusus diperintahkan "khudzu anni manasikakum". Artinya berhajilah sesuai dengan yang Aku sunnahkan, kata Rasulullah SAW. Artinya Rasulullah memerintahkan umatnya untuk melakukan ibadah haji sesuai caranya. Dan untuk melakukan haji sesuai cara Rasul mutlak dengan ilmu.

Demikian pula hidup. Sukses takkan diraih tanpa ilmu dan pengetahuan. "Barangsiapa yang mau dunia hendaknya dengan ilmu. Barangsiapa yang mau sukses di Akhirat haruslah dengan ilmu. Dan Barangsiapa yang mau sukses pada keduanya hendklah dengan ilmu".

Karenanya menguasai ilmu manasik dan makna-makna ritual haji menjadi sangat penting dalam ibadah ini.

Dan tak kalah pentingnya adalah persiapan spiritual atau ruhani. Alqur'an mengingatkan: "wa tazawwadu Fa inna khaeraz zaadit Taqwa"... bahwa sebaik-baik itu adalah ketakwaan. Substansi dasar dari ketakwaan adalah "khasyatullah" (rasa takut pada Allah). Dan khasyatullah adalah esensi ruhiyah Salam Islam.

Haji adalah ibadah yang lengkap. Dan persiapan keruhaniaan menjadi sangat mendasar. Karena semua ibadah dibangun di atas kesiapan dan kebersihan hati.

Kebersihan hati dalam beribadah ini biasanya lebih dikenal dengan istilah "tazkiyah an nafs" (penyucian jiwa).

Perjalanan hidup manusia kiranya demikian pula. Tanpa Persiapan spiritualitas atau ruhani maka semua akan menjadi goyah dan goncang. Ketenangan hidup itu akan ditentukan oleh hati dan jiwa manusia. Sementara hati dan jiwa hanya dapat menjadi tenang ketika tingkat spiritualitas itu besar.

Kekuatan spiritualitas itu dibangun oleh kehadiran dzikrullah: "Bukankah dengan mengingat Allah hati-hati (quluub) menjadi tenang?".

Hati yang gersang ruhani mudah sakit. Termasuk merasakan ketakutan (khauf) dan kesedihan (hazan). Yang berbahaya ketika hati dan jiwa yang rapuh itu selalu terancam oleh apapun. Bahkan oleh kelebihan dan bahkan kebaikan orang lain misalnya. Irihati dan dengki adalah indikasi jiwa dan hati yang rapuh dan goyah.

Karenanya haji yang matang adalah haji yang dipersiapkan pada tiga aspek ini. Dan hidup yang matang juga adalah hidup yang terbangun di atas tiga fondasi yang solid: materi/fisikal, ilmu/pengetahuan, dan ruhani/spiritualitas. (bersambung)...
(rhs)
preload video
cover top ayah
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ اِلٰى مَا مَتَّعۡنَا بِهٖۤ اَزۡوَاجًا مِّنۡهُمۡ زَهۡرَةَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا لِنَفۡتِنَهُمۡ فِيۡهِ‌ ؕ وَرِزۡقُ رَبِّكَ خَيۡرٌ وَّاَبۡقٰى
Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.

(QS. Taha:131)
cover bottom ayah
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak