alexametrics

Tausiyah Ramadhan

Memahami Tujuan I’tikaf

loading...
Memahami Tujuan I’tikaf
Umat Islam dianjurkan menghidupkan i'tikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini. Foto Masjid Nabawi Madinah/Istimewa
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation

Bulan Ramadhan secara keseluruhan, bukan saja bulan yang penuh rahmah, barokah dan kebaikan. Tapi memang karunia besar yang Allah berikan kepada umat ini. Hakikat ini dipahami secara benar oleh para sahabat dan salafus saleh. Sehingga mereka menyambutnya dengan suka cita yang luar biasa.

Karenanya seperti yang pernah disebutkan terdahulu, respons tertinggi dalam menyambut bulan ini adalah dengan kesyukuran. Bentuk kesyukuran tertinggi itu adalah dengan menggunakan nikmat tersebut secara maksimal dalam ridhaNya.

Di sinilah kita akan teruji apakah kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur atau sebaliknya hamba-hamba yang tidak sadar nikmat? Dengan masuknya malam-malam terakhir bulan Ramadhan ini, ujian itu semakin nyata. Karena di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini semua bentuk ibadah dan amal kebajikan menjadi sangat istimewa. Sehingga sikap kita akan menjadi tolok ukur apakah kita memang bersyukur atau sebaliknya?

Salah satu amalan yang secara kuat disunnahkan atau dalam bahasa agama menjadi “sunnah muakkadah” adalah melakukan i’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan ini.

Secara bahasa i’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah karena Allah SWT. Defenisi sederhana ini sesungguhnya dapat disimpulkan sebagai “mujadah” dan fokus penuh dalam beribadah kepada Allah selama hari-hari tersebut.

Rasulullah SAW menyunnahkan kepada umatnya beri’tikaf selama sepuluh hari. Beliau pun melakukan hal yang sama. Bahkan di akhir-akhir hayat beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari.

Dari praktek Rasulullah SAW sendiri sebenarnya lebih dipahami bahwa ajaran ini bertujuan untuk melakukan konsentrasi penuh dalam melakukan mujahadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah melalui ragam ibadah selama 10 hari terakhir Ramadhan.

Saya merasa tidak perlu lagi menjelaskan rukun, syarat, sunnah maupun larangan-larangan ketika beri’tikaf. Dengan kata lain tulisan ini tidak bermaksud membahas hukum-hukum fiqhiyah dari i’tikaf. Karena sangat mudah untuk menemukan pembahasan dan dengan sangat rinci dalam buku-buku Fiqh.

Justeru yang ingin saya bahas adalah tujuan apa saja yang ingin dicapai dengan praktek ibadah i’tikaf ini. Hal ini sangat penting, agar ibadah yang kita lakukan tidak selamanya kembali modal. Artinya ibadah kita tidak memiliki nilai tambah karena orientasi kita sekadar hitung-hitungan dengan Allah.

Seolah-olah ibadah yang kita lakukan itu adalah barteran dengan pemberian Allah. Kita melakukan karena mengharap diberi. Saya tidak mengatakan hal ini salah. Sebab hadis memang mengatakan “imaanan wa ihtisaaban”. Kata ihtisaab berarti dengan perhitungan (pahala).

Hanya saja jika hanya ini yang menjadi pertimbangan maka ibadah-ibadah yang kita lakukan kemudian kurang, bahkan tidak memilki nilai tambah yang berdampak positif dalam hidup kita. Hakikat inilah yang saya istilahkan “Ibadah yang kembali modal”.

Lalu apa saja tujuan (goals) dari i’tikaf yang kita lakukan?

Pertama, i’tikaf bertujuan membangun kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT. Ini adalah masa-masa terbaik untuk menyendiri, tanpa siapa di sekitar, di saat bersama Allah SWT. Dengan cara ini akan tumbuh rasa kebersamaan dengan Allah (ma’iyah Allah). Dan dengannya seorang hamba akan menjadi kuat, damai, tenteram, tidak mudah goyah oleh goncangan hidup duniawi.

Kedua, i’tikaf bertujuan membangun komitmen pengabdian (ibadah) dengan segala jiwa dan hati. Di saat inilah dunia untuk sementara dikesampingkan. Yang ada hanya jiwa ubudiyah kepada Allah SWT. I’tikaf yang juga dapat dikatakan “mengurung diri” di masjid-masjid itu memang bertujuan agar Ibadah-ibadah lebih fokus tanpa gangguan apapun.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ جَآءَكُمۡ فَاسِقٌ ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوۡۤا اَنۡ تُصِيۡبُوۡا قَوۡمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصۡبِحُوۡا عَلٰى مَا فَعَلۡتُمۡ نٰدِمِيۡنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.

(QS. Al-Hujurat:6)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak