alexametrics

Apakah Doa Qunut Dibolehkan dalam Salat?

loading...
Apakah Doa Qunut Dibolehkan dalam Salat?
Doa Qunut dalam salat adalah salah satu sunnah Nabi. Namun, orang yang tidak mau berqunut dianggap telah berbuat baik. Foto/Istimewa
Pertanyaan:

Apakah doa Qunut dalam shalat itu disyariatkan? Jika disyariatkan, apakah dalam semua salat? Adakah lafaz-lafaz tertentu?

Jawaban:

Qunut adalah doa yang disyariatkan dalam semua salat lima waktu ketika terjadi bencana. Berdasarkan hadis Ibnu Abbas, “Rasulullah SAW melaksanakan Qunut dalam salat lima waktu selama satu bulan. Beliau mendoakan (laknat) kawasan Bani Sulaim; Ri’l, Dzakwan dan ‘Ushayyah, karena mereka telah membunuh sebagian sahabat yang dikirim untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad.

Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwa jika Rasulullah SAW ingin mendoakan yang tidak baik (laknat) atau yang baik untuk seseorang, beliau membaca doa Qunut setelah ruku’. Dalam riwayat ini disebutkan, “Rasulullah SAW mengucapkannya dengan suara terdengar (jahr). Beliau mengucapkan dalam sebagian salatnya dan dalam salat Shubuh: “Ya Allah, laknatlah fulan dan fulan”, dua kawasan Arab. Hingga Allah Swt menurunkan ayat: “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (QS. Al ‘Imran [3]: 128). (Baca Juga: Mengapa Tangan Diangkat Ketika Berdoa?)

Berdasarkan ini maka doa Qunut dalam salat Shubuh disyariatkan ketika terjadi bencana, sama seperti salat-salat yang lain. Adapun ketika tidak terjadi bencana, maka ada beberapa pendapat Fuqaha’ (ahli Fiqh) secara ringkas.

1. Mazhab Hanafi dan Hanbali: tidak disyariatkan.

Mereka berdalil dengan riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, dari Anas, “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak membaca doa Qunut dalam salat Shubuh, kecuali untuk mendoakan yang baik atau yang tidak baik (laknat) untuk mereka”.

2. Mazhab Maliki dan Syafi’i: disyariatkan.

Dalil mereka adalah riwayat jamaah ahli hadis, kecuali Imam at-Tirmidzi, bahwa Anas bin Malik ditanya, “Apakah Rasulullah membaca doa Qunut dalam salat Subuh?”. Beliau menjawab, “Ya”. Dan diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, al-Hakim, dinyatakan shahih oleh al-Hakim, dari Anas, ia berkata, “Rasulullah terus menerus membaca doa Qunut dalam salat Shubuh hingga beliau meninggal dunia”.

Pembahasan dalil-dalil ini dan penjelasan tarjih-nya dapat merujuk kitab Zad al-Ma’ad karya Ibnu al-Qayyim yang setelah membahas beberapa riwayat beliau menjelaskan bahwa ahli hadis bersikap pertengahan antara mereka yang mengingkari Qunut secara mutlak. Bahkan ketika terjadi bencana dan di antara mereka yang menganggap baik Qunut secara mutlak, baik ketika terjadi bencana atau pun tidak terjadi bencana.

Ahli hadits tidak mengingkari orang-orang yang terus menerus berqunut dan tidak membenci perbuatan mereka tersebut. Mereka tidak menganggapnya sebagai bid’ah dan pelakunya tidak dianggap sebagai pelaku perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah.

Ahli hadis juga tidak mengingkari orang-orang yang mengingkari Qunut meskipun ketika terjadi bencana. Ahli hadis tidak menganggap orang-orang yang tidak mau berqunut itu bid’ah dan bertentangan dengan Sunnah. Akan tetapi, siapa yang berqunut, maka ia telah berbuat baik dan orang yang tidak mau berqunut juga telah berbuat baik, ini termasuk khilaf yang dibolehkan, khilaf yang tidak perlu bersikap keras di dalamnya, apakah melakukannya atau pun tidak melakukannya.

Sama seperti masalah apakah mengangkat kedua tangan atau tidak mengangkat kedua tangan dalam salat. Saya katakan, “Khilaf dalam masalah ini sangat sederhana, khilaf dalam masalah sunnat, bukan wajib dan agama itu memberikan kemudahan”.

Imam Ahmad dan beberapa pengarang kitab as-Sunan meriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i bahwa ia mengatakan Qunut Shubuh itu bid’ah, karena ia melaksanakan shalat Subuh di belakang Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar dan Ali, semua mereka tidak berqunut. Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Qunut pada shalat Shubuh itu bid’ah”. (Baca Juga: Apakah Salat Witir Bisa Diqadha?)
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
وَمَا كَانَ قَوۡلَهُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوۡا رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَاِسۡرَافَنَا فِىۡۤ اَمۡرِنَا وَ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

(QS. Ali 'Imran:147)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak