alexametrics

Muhasabah dalam Berpuasa

loading...
Muhasabah dalam Berpuasa
Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan oleh orang-orang saleh. Foto/Istimewa
Muhibbin
Rektor UIN Walisongo, Semarang

Tujuan berpuasa ialah agar menjadi manusia yang taqwa atau menjadi lebih baik dalam arti yang sesungguhnya. Yaitu manusia yang taat hukum, sabar, berdisiplin tinggi, mempunyai etos kerja tinggi, peka terhadap lingkungan, berbudi pekerti baik, santun, dan jauh dari sifat sombong serta sifat jelek lainnya.

Tetapi pertanyaannya apakah dalam menjalankan puasa setiap tahunnya kita telah berhasil menjadi manusia taqwa seperti itu? Tentu jawabannya sangat mudah, belum. Lantas, kalau puasa kita belum dapat menjadikan kita sebagai manusia taqwa seperti itu, apa yang kita dapatkan dengan berpuasa tersebut. Jangan-jangan kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata, atau jangan-jangan puasa yang kita jalankan selama ini hanya  untuk membebaskan kita dari jeratan dosa saja atau jangan-jangan.

Barangkali selama ini kita hanya takut siksa Tuhan sehingga kita “terpaksa” menjalankan ibadah puasa tersebut meskipun terasa sangat berat, menyengsarakan, dan bahkan dapat mengurangi produktivitas kerja kita. Sehingga kalau seandainya ibadah puasa itu hanya sebuah pilihan, maka kebanyakan kita akan memilih tidak berpuasa. Itulah realitas yang terjadi pada kebanyakan umat Islam. Karena itulah sangat wajar manakala puasa yang dilakukan tidak akan memberikan efek atau dampak  apapun dalam dirinya, terkecuali rasa lapar dan dahaga.

Kalau memang kondisinya seperti itu maka sesungguhnya kita tidak layak untuk meneriakkan kemenangan saat usai menjalankan puasa tersebut, seperti yang selama ini  kita lakukan. Teriakan kemenangan tersebut ternyata hanya untuk menunjukkan bahwa kita sudah bebas dari kewajiban puasa yang kita laksanakan dengan penuh keterpaksaan.  

Tidak aneh kalau setelah puasa kebiasaan jelek yang selama Ramadhan ditinggalkan, akan diulangi lagi. Bahkan semua kebaikan yang dilakukan akan menjadi berantakan dan sama sekali tidak dihiraukan lagi setelah selesai Ramadhan.

Padahal kalau kita perhatikan tujuan puasa seperti yang saya sebutkan di atas tidak akan mungkin dapat digapai dengan kondisi seperti itu. Puasa tidak secara otomatis akan mengubah perilaku kita  dari jelek menjadi baik, tetapi puasa yang benar dan dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kesadaran tinggi serta dengan merenungkan hikmah yang terkandung di dalamnya. Kita yakin akan dapat memberikan dampak positif bagi diri kita, dan itulah yang kemudian  dinamakan sebagai takwa.

Bagi orang yang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan dapat memetik manfaat puasa, tentu akan menjalankannya dengan kerelaan dan kesenangan hati. Bukan dengan keterpaksaan. Bahkan bagi orang-orang tertentu yang sangat mendalam renungannya dalam menemukan hakikat dan hikmah puasa akan sangat kehilangan pada saat harus berpisah dengan Ramadhan.

Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW pernah menggambarkan, “Kalau seandainya umatku mengetahui apa apa yang terdapat di Ramadan, tentu mereka akan berharap bahwa seluruh bulan dalam setahun merupakan Ramadhan semua”. Tentu apa yang disampaikan Nabi tersebut hanya sekadar penggambaran tentang betapa Ramadhan tersebut penuh dengan sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang-orang saleh.

Tentu ada beberapa hal di seputar Ramadhan yang disampaikan oleh Nabi dan juga langsung oleh Tuhan, yang dapat mendorong dan memotivasi kita untuk menjalankan ibadah puasa, seperti jaminan ampunan atas dosa-dosa kita yang telah lampau, jaminan masuk surga, jaminan berlipat gandanya ganjaran yang akan kita peroleh. Dan yang terbesar ialah adanya malam yang dikenal dengan lailatul qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Namun, demikian sesungguhnya masih ada banyak lagi sesuatu yang lain yang tidak secara langsung diberitahukan kepada kita, dan hanya kitalah yang dapat menggalinya sendiri melalui renungan mendalam dan fokus. Dan sesuatu yang tidak disebutkan inilah kiranya yang akan membuat orang menjadi tergila-gila dengan Ramadhan dan sekaligus akan selalu merindukannya.
(rhs)
cover top ayah
وَالَّتِىۡۤ اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَـنَفَخۡنَا فِيۡهَا مِنۡ رُّوۡحِنَا وَ جَعَلۡنٰهَا وَابۡنَهَاۤ اٰيَةً لِّـلۡعٰلَمِيۡنَ‏
Dan ingatlah kisah Maryam yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam tubuhnya, Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda kebesaran Allah bagi seluruh alam.

(QS. Al-Anbiya:91)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak