alexametrics

Kisah Si Miskin yang Bertobat karena Ucapan Lelaki Tua

loading...
Kisah Si Miskin yang Bertobat karena Ucapan Lelaki Tua
Foto ilustrasi/Istimewa
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih". (QS Ibrahim: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa bersyukur adalah hal yang sangat ditekankan dalam Islam. Bahkan, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya. Sebut saja nikmat bernafas, nikmat hidup, nikmat iman dan Islam, nikmat makan dan minum dan masih banyak lainnya.

Perintah bersyukur ini juga diabadikan dalam Alquran: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. (QS Al-Baqarah: 172)

Ulama besar Arab Saudi Habib Muhammad bin Alwi Al-Miliki Al-Hasani (1946-2004) pernah mengisahkan seorang fakir miskin yang tidak pandai bersyukur.  Alkisah, suatu hari seorang fakir miskin melewati jalan di Madinah.

Di sepanjang jalan, dia sering melihat orang-orang makan Daging. Diapun merasa sedih karena jarang sekali bisa makan Daging. Dia pulang ke rumahnya dengan hati mendongkol. Sesampai di rumah, istrinya menyuguhkan kedelai rebus.

Dengan hati terpaksa, dia memakan kedelai itu seraya membuang kupasan kulitnya ke luar jendela. Dia sangat bosan dngan Kedelai. Dia bilang kepada istrinya, "Bagaimana hidup kita ini? Orang-orang makan daging, kita masih makan kedelai."

Tak lama kemudian, dia keluar ke jalan di pinggir rumahnya. Alangkah terkejut dia melihat seorang lelaki tua duduk di bawah jendela rumahnya sambil memungut kulit-kulit kedelai yang ia buang dan memakannya seraya mengucapkan, "Segala Puji bagi Allah yang telah memberiku rezeki tanpa harus mengeluarkan tenaga".

Mendengar ucapan lelaki tua itu, dia pun menitikkan air mata, seraya berkata: “Rodhitu Ya Rob. Sejak detik ini, aku rela dengan apapun yang Engkau berikan, Ya Allah."

Rejeki itu yang penting mengalir, besar kecil yang penting ada alirannya. Jangan harap mengalir seperti banjir, kalau tak bisa berenang bisa tenggelam. Sampai kapan engkau sibuk dengan kelezatan, sedangkan engkau akan ditanya tentang semua yang kau lakukan. Demikian nasihat indah dalam kisah ini.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata: "Barang siapa perhatiannya hanya pada apa yang masuk ke perutnya, maka nilai seseorang itu tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya".
(rhs)
cover top ayah
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ‌ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡ‌ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ‌‌ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ‌ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

(QS. Al-Baqarah:286)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak