alexametrics

Puasa Ramadhan dan Upaya Menahan Diri

loading...
Puasa Ramadhan dan Upaya Menahan Diri
Defenisi puasa itu secara fiqh sangat sederhana. Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri serta semua yang dapat membatalkannya dari terbitnya fajar kedua hingga terbenam matahari karena Allah SWT. Ilustrasi/SINDOnews
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation

SESUNGGUHNYA defenisi puasa itu secara fiqh sangat sederhana. Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri serta semua yang dapat membatalkannya dari terbitnya fajar kedua hingga terbenam matahari karena Allah SWT.

Dari defenisi dapat dipahami bahwa substansi puasa adalah menahan. Kata menahan inilah yang menjadi inti dari puasa. Bahkan menahan diri dari berbicara juga diistilahkan “schiuma” dalam Alquran, seperti pada kasus Maryam binti Imran yang dilarang bicara setelah melahirkan (Isa AS).

Rasulullah SAW juga menasehatkan agar di saat seseorang diajak berkelahi hendaknya berkata: saya berpuasa (inni shoo-im). Tentu kata “shoo-im” atau puasa di sini dimaksudkan “menahan” diri.

Dengan demikian jelas bahwa intisari dari puasa adalah menahan. Yaitu menahan diri atau ego dan hawa nafsu dari melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan karenanya objek terpenting dari semua pembahasan tentang puasa ada pada pengendalian hawa nafsu.

Hawa berarti keinginan (desire). Sedangkan nafsu berarti diri (ego). Dengan demikian puasa dalam arti menahan berarti menahan diri dari dorongan hawa nafsu (ego). Di sinilah kita ketemukan urgensi puasa. Karena betapa banyak destruksi yang terjadi dalam hidup manusia disebabkan oleh kegagalan manusia itu sendiri dalam mengendalikan hawa nafsunya.

Hawa nafsu bukan untuk dipandang musuh, apalagi dihancurkan. Karena tanpa hawa nafsu dunia ini tidak ada (exist). Bahkan dunia itu alaminya adalah hawa nafsu. Hanya dengan hawa nafsu eksistensi manusia terpelihara.

Karenanya Islam sebagai agama yang secara alami sejalan dengan hidup manusia tidak mematikan dorongan atau keinginan (nafsu) manusia kepada lawan jenisnya. Islam sekadar mengarahkan dan mengaturnya.

Hingar bingar pembangunan kota-kota dunia, gedung-gedung pencakar langit di kota New York, bukan untuk disalahkan. Itu bagian dari eksistensi nafsu yang memang secara alami dijadikan bagian dari hidup manusia.

Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang transportasi dan telekomunikasi saat ini juga merupakan konsekuensi langsung dari eksistensi nafsu. Bahkan kemajuan peradaban material manusia itu semuanya bagian dari eksistensi nafsu manusia yang tidak harus disalahkan.

Pembangunan dan kemajuan material dunia kita, sekali lagi, bukan untuk disesali atau disalahkan, apalagi dipandang musuh. Justru dalam pandangan Islam itu justeru bisa menjadi bagian dari kebaikan (hasanah) kehidupan itu sendiri.

Celakanya memang ketika dorongan (hawa) nafsu (ego) manusia itu kemudian lepas kendali. Nafsu menjadi penentu hidup bahkan menjadi tujuan tertinggi (ultimate goal) kehidupan. Manusia hidup seolah tidak ada lagi yang penting dalam hidupnya selain materi (maaddah).

Jika ini terjadi maka materi tidak lagi sebagai objek hidup tapi berubah menjadi tuan atau master. Di sinilah kerap dunia atau nafsu berubah menjadi “tuhan kecil” dalam hidup. Hal yang diingatkan oleh Alquran: “Tidakkah Anda melihat siapa yang menjadikan hawa (nafsunya) sebagai tuhan?”.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
اَوَلَا يَرَوۡنَ اَنَّهُمۡ يُفۡتَـنُوۡنَ فِىۡ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوۡ مَرَّتَيۡنِ ثُمَّ لَا يَتُوۡبُوۡنَ وَلَا هُمۡ يَذَّكَّرُوۡنَ
Dan tidakkah orang-orang munafik itu memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, namun mereka tidak juga bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran?

(QS. At-Taubah:126)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak