alexametrics

Jauhi Perbuatan Ini Ketika Berpuasa

loading...
Jauhi Perbuatan Ini Ketika Berpuasa
Ilustrasi. Foto/dok voa-islam
Fenomena akhir-akhir ini ada banyak orang yang rajin berpuasa, namun puasanya tidak sedikit pun memberikan pengaruh positif dalam pembentukan kepribadiannya.
 

Ia rajin berpuasa, namun tetap menyebarkan berita-berita bohong, hoaks, menebar ujaran kebencian dan fitnah. Lantas, bagaimana puasa orang yang suka menebarkan hoaks serta ujaran kebencian (hate speech)? Berikut petikan tausiyah Ustaz Miftah el-Banjary yang dirangkum SINDOnews, Senin (14/5/2018).

Puasa berarti al-Imsak (menahan); mengekang hawa nafsu dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa bukan persoalan menahan makan dan minum saja. Lebih dari itu puasa adalah training pembentukan kepribadian mencapai puncak kebaikan dan ketakwaan.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Puasa itu perisai. Apabila salah seorang dari kamu berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang yang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan Jabir dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Lima hal membukakan orang yang berpuasa yaitu: dusta, menggunjing, mengumpat, sumpah dusta dan melihat dengan syahwat.”

Islam sangat jelas tidak mentolerir tindakan menyakiti orang lain dengan ucapan. Terlebih lagi upaya melakukan provokasi, hoaks, fitnah serta menebarkan ujaran kebencian atas nama pribadi, kelompok, bahkan atas nama agama sekalipun.

Ketaatan beribadah sejatinya tidaklah berbanding lurus dengan perilaku buruk. Sebab kasus yang sama juga pernah terjadi pada masa Rasulullah, dimana ada dua wanita ahli ibadah yang rajin beribadah sepanjang malam dan berpuasa sepanjang harinya. Namun keduanya suka menggunjing dan menyakiti dengan kata-katanya.

Lalu, Rasulullah menyatakan bahwa keduanya tidaklah melakukan kebaikan apa-apa. Sebab kebaikan mereka telah terhapus oleh perilaku buruknya yang senang menebarkan ujaran kebencian, ghibah dan fitnah yang menyakiti sesama. (Lihat hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ubaid Maula).

“Ajaran Islam yang mana yang memperbolehkan seseorang menjatuhkan kehormatan dan harga diri orang lain, mencemarkan nama baiknya, bahkan menebarkan kebencian atas nama agama?” kata dai jebolan Mesir itu.

Dalam hal ini kita semua perlu introspeksi diri lagi mendatadaburi firman Allah SWT: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong banyak memakan yang haram.” (QS Al-Maidah: 42)

Tentunya kita tidak ingin puasa Ramadhan menjadi sia-sia hanya disebabkan ucapan di media sosial atau kebiasaan menebarkan hate speech. Nabi SAW pernah bersabda: “Orang yang menggunjing dan yang mendengarkan itu sekutu dalam dosa.” (Hadits Gharib).

Jangan sampai kita terjebak dalam puasa simbolik, tanpa makna, tanpa pahala sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah SAW: “Betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak ada dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasai dan Ibn Majah dari hadits Abu Hurairah).
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak