alexametrics

Kapan Awal Puasa Ramadhan? Ini Penjelasannya

loading...
Kapan Awal Puasa Ramadhan? Ini Penjelasannya
Foto Ilustrasi bulan Ramadhan/Dok SINDOnews
JAKARTA - Fenomena yang sudah tidak asing dan mungkin bisa dikatakan ‘membosankan’ bagi umat Islam di Indonesia, biasa terjadi dalam penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Bagaimana sebenarnya penetapan awal bulan Ramadhan? Pengasuh Ponpes Al-Fachriyah Tangerang, Habib Ahmad bin Novel akan menjelaskannya secara rinci. Dalam hal ini, Habib Ahmad menjabarkan pendapat para pakar ilmu fiqih, yang lebih dikenal dengan sebutan Fuqoha.

Kata Habib Ahmad, setidaknya ada lima poin penting yang harus diketahui, dimana jika terdapat salah satunya, maka datanglah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan bagi setiap Muslim. Kelima poin tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sempurnanya Bulan Sya’ban 30 Hari
Sebagaimana diketahui bahwa perhitungan bulan dalam syariat Islam antara 29 dan 30 hari. Sehingga ketika telah sempurna bulan Sya’ban 30 hari, dapat dipastikan bahwa keesokan harinya adalah awal masuknya bulan Ramadhan.

2. Terlihatnya Hilal
Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits, seperti Shohihul Bukhori dan Muslim yang artinya: “Berpuasalah kalian setelah terlihatnya hilal, dan berbukalah (berlebaran) setelah terlihatnya hilal. Kalaulah hilal tidak terlihat, maka kalian sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.”

Adapun yang dimaksud dengan hilal adalah bulan sabit pada tanggal 1, 2 dan 3 setiap bulannya, setelah itu berubah istilahnya dengan ‘qomar’ (bulan).Dengan demikian, siapa pun yang melihat secara langsung dengan mata kepalanya hilal bulan Ramadhan, walaupun orang tersebut fasiq, maka wajib bagi orang tersebut untuk berpuasa keesokan harinya.

3. Ketetapan Pemerintah
Bagi mereka yang tidak melihat hilal secara langsung dengan mata kepala, maka syariat memberikan jalan bagi mereka dengan adanya ketetapan dari pemerintah. Ketetapan yang diambil tentunya setelah adanya kabar dari seseorang pemberi kesaksian yang terpercaya (‘adl Asy-syahadah).

Adapun kriteria pemberi kesaksian tersebut yaitu: tidak pernah berbuat dosa besar, tidak mengerjakan dosa-dosa kecil terus menerus, ketaatannya lebih besar dan lebih dominan dari maksiatnya, laki-laki, merdeka, berakhlak dan kelakuannya baik, terjaga (tidak dalam keadaan tidur ketika melihat hilal), dapat berbicara, penglihatannya normal (tanpa alat bantu), dapat mendengar.

Apabila ada seseorang yang termasuk kriteria “adl Asy-Syahadah”, dan telah melihat hilal Ramadhan, dan melaporkannya kepada yang berwenang (pemerintah), selanjutnya disetujui pihak tersebut (pemerintah). Kemudian ditetapkan bahwa hasil penglihatan orang tersebut merupakan tanda masuknya Ramadhan. Maka saat inilah masyarakat yang tidak melihat hilal secara langsung dapat berpuasa Ramadhan dengan dasar keputusan tersebut.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud dan disahkan oleh Al Imam Ibn Hibban, bahwa Sayyidina Abdullah bin Umar ibn Khottob berkata: “Aku pernah memberikan kabar kepada Rasulullah SAW, bahwa aku telah melihat hilal (Ramadhan), maka Rasulullah pun berpuasa dan memerintahkan kepada seluruh sahabatnya untuk berpuasa.”

Diriwayatkan pula oleh Al Imam At-Turmudzi dan yang lainnya: “Seorang a’rabi datang menemui Rasulullah SAW bersaksi bahwa dia telah melihat hilal Ramadan, maka Nabi pun memerintahkan semua sahabat untuk berpuasa.”

4. Sampainya Berita tentang Masuknya Bulan Ramadhan
Apabila sampai kabar dan berita masuknya bulan Ramadan kepada seseorang yang tidak mengetahui tentang masuknya bulan Ramadan, baik disebabkan tidak melihat hilal, atau tidak mengetahui telah keluarnya ketetapan dari pemerintah. maka perlu diperhatikan bagi yang menerima berita tersebut dua hal:

Pertama, jika pembawa kabar adalah orang terpercaya, tidak terbiasa dengan sifat dusta. Maka dengan datangnya kabar ini, wajiblah ia berpuasa. Kedua, jika pembawa kabar adalah orang tidak terpercaya, terbiasa dengan sifat dusta. Dengan datangnya kabar ini, apabila ia meyakini kebenaran berita sang pendusta ini, wajiblah ia berpuasa.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak